* Broadcastindo.com

Custom Search
Penyedia Layanan Hosting dan Domain Ponorogo

Komunitas Online Terbesar di Ponorogo

Author Topic: Cuaca tekan omzet penjualan dawet jabung  (Read 1187 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline admin pozone

  • Administrator
  • *****
  • Posts: 56
  • Reputation: +28/-3
  • Gender: Male
  • Hidup adalah kebersamaan!!!
    • Liat koleksi Photography ku.
Cuaca tekan omzet penjualan dawet jabung
« on: January 27, 2011, 01:34:39 PM »

Dawet Jabung, Ponorogo.

PONOROGO - Kabupaten Ponorogo identik dengan dawet jabung. Kuliner yang satu ini, menduduki rangking ketiga setelah reog dan sate ayam sebagai ‘ikon’ Ponorogo. Apalagi dawet jabung merambah daerah luar Kabupaten Ponorogo, seperti Madiun, Magetan, Ngawi, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, hingga Wonogiri.

Namun, sentra industri rumah tangga pembuatan sagu dawet jabung produksinya menurun drastis akibat cuaca ekstrem. Tingginya curah hujan disertai angin, menyebabkan sagu sulit dikeringkan. Begitu pula mendapatkan buah aren sebagai bahan bakunya, makin sulit didapat.

“Dulu kalau musim kemarau, kami bisa menjual tepung sampai satu kuintal, sekarang satu sak saja gak habis sehari,” terang Rusik Rifai (65) salah satu pembuat tebung sagu di RT 02/RW 01, Dusun Jabung I, dan Jemiyo warga RT 02/RW 02 Dusun Jabung II, Desa Jabung, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo.

Sekitar 15 tahun silam, di Jabung hampir setiap rumah memiliki kesibukan membuat tepung sagu untuk pembuatan dawet. Namun, kini puluhan pembuat tepung sagu itu, sudah gulung tikar. Rata-rata mereka gulung tikar bukan karena bangkrut, melainkan kurangnya bahan baku aren. Ini menyusul pohon aren hampir punah dan semakin langka.

Rusik Rifai yang masih menggeluti penggilingan tepung sagu aren mengatakan, musim hujan yang tak menentu, juga menekan omzet penjualan tepung. Jika tahun lalu, pada kemarau omzet penjualan sehari mencapai 1 kuintal, kini menurun drastis.

Hal senada juga di katakan Jemiyo. Sejak setahun ini omzet pabrik tepung sagunya menurun karena penjual dawet juga banyak yang libur karena tingginya curah hujan. Jemiyo mempekerjakan 10 orang di pabriknya. Kini hanya tinggal empat orang saja. “Permintaan tepung menurun karena para pedagang dawet banyak yang libur di musim hujan,” imbuhnya. [nwan | SURYA]