* Broadcastindo.com

Custom Search
Penyedia Layanan Hosting dan Domain Ponorogo

Komunitas Online Terbesar di Ponorogo

Author Topic: Ketika puncak kesabaran bangsa Indonesia  (Read 2330 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline admin pozone

  • Administrator
  • *****
  • Posts: 56
  • Reputation: +28/-3
  • Gender: Male
  • Hidup adalah kebersamaan!!!
    • Liat koleksi Photography ku.
Ketika puncak kesabaran bangsa Indonesia
« on: August 31, 2010, 03:30:33 PM »




 :91: :91:HIDUP bangsa INDONESIA RAYA!!! :96: :96:
Tetangga yang Pongah    Oleh : Arwin Ray,SH   

Tetangga seyogianya adalah famili terdekat yang dimiliki sebuah keluarga. Jika terjadi sesuatu masalah dalam sebuah keluarga, maka tetanggalah yang pertama tahu dan jika perlu memberikan bantuan.
 Tetangga yang baik akan senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangganya, memberikan perhatian, bahkan bantuan jika dibutuhkan.

Sebaliknya ada juga tetangga yang sombong, yang suka memamerkan kelebihannya pada tetangganya. Menganggap enteng tetangganya dengan melakukan hal-hal yang tidak disenangi sang tetangga. Lebih kurang ajar lagi, mengklaim bahwa milik tetangganya sebagai miliknya. Tingkah polah tetangga seperti ini sering memancing terjadinya keributan antar tetangga yang tidak jarang harus berujung ke ranah hukum.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pun, situasi seperti digambarkan di atas kurang lebih sama. Kedamaian hanya akan tercipta jika masing-masing pihak yang bertetangga saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Sebaliknya, jika salah satu pihak selalu mengemukakan egonya sendiri, maka tidak pelak lagi sengketa yang akan terjadi, bahkan tidak jarang berujung perang. Lihatlah situasi di Timur Tengah yang tak pernah sepi desingan peluru serta dentuman bom.

Demikian halnya situasi antara negara bertetangga Indonesia dengan Malaysia. Kedua negara yang katanya adalah bangsa serumpun ini tak pernah sepi dari berbagai masalah. Bahkan sejak berdirinya negara Malaysia di era orde lama, Presiden Sukarno bertekad menghapuskan negara itu dengan proyeknya "Ganyang Malaysia". Ketika itu kedua bangsa sudah berhadapan dalam posisi perang, namun perang terbuka tak pernah terjadi.

Ketika rezim berganti, pemerintah orde baru dipimpin Suharto berbalik arah. Pemerintah orde lama yang tadinya berkiblat ke Moskow (Blok Timur) berputar mengarah ke blok barat. Normalisasi hubungan dengan Malaysia pun dilakukan. Kerja sama berbagai bidang dilaksanakan. Termasuk mengirimkan banyak guru dari Indonesia ke negeri jiran itu, terutama para guru matematika.

Seiring berjalannya waktu, Malaysia yang tadinya cuma "anak bawang" dibanding Indonesia, ternyata lebih maju dari gurunya. Ini tentu berhubungan dengan situasi dan kondisi Indonesia yang banyak salah urus, sementara Malaysia menerapkan secara konsekuen apa yang dipelajarinya dari Indonesia. Kita sendiri tertinggal dari negeri jiran itu karena banyak di antara pemimpin yang tidak satu kata dengan perbuatan. Korupsi dimana-mana berakibat terpuruknya negeri tercinta.

Mulai Pongah
Kemajuan pesat negara tetangga itu terutama di bidang ekonomi membuat ia menjadi surga bagi para pencari kerja dari Indonesia. Dikabarkan, kini tidak kurang dari dua juta tenaga kerja Indonesia, baik resmi mau pun ilegal, mencari nafkah di negeri itu. Oleh tuan rumah mereka diberi label "Indon", sebuah sebutan yang sinis dan merendahkan menurut pendapat orang Indonesia, namun tidak demikian menurut tuan rumah.

Merasa dirinya sudah mulai lebih kuat dari tetangganya, Malaysia mulai menunjukkan kepongahannya. Pulau Sipadan dan Ligitan yang sejatinya adalah milik Indonesia, diklaim sebagai miliknya. Salah para pemimpin Indonesia juga, kurang piawai berdiplomasi, serta kurang peduli pada pulau-pulau terluar wilayah Indonesia, akhirnya Sipadan dan Ligitan lepas dari rangkaian kepulauan nusantara, masuk ke negara Malaysia.

Meski Sipadan dan Ligitan hanyalah dua pulau kecil dengan sedikit penduduk dan kurang berarti dari segi ekonomi, namun konsekuensinya adalah bertambahnya luas wilayah Malaysia termasuk perairannya dan berkurangnya wilayah Indonesia mungkin ribuan mil luasnya. Ini jelas merupakan tamparan keras buat Indonesia. Tapi mau apa lagi, semua itu karena kelalaian para pemimpin kita yang tidak serius menjaga warisan nusantara.

Kepongahan lain yang dipertontonkan Malaysia adalah dalam kasus Ambalat. Kapal perang Malaysia dengan terang-terangan melanggar masuk ke teritorial perairan Indonesia dan mengganggu pekerja Indonesia yang sedang membangun mercu suar. Kapal perang tersebut sempat didorong keluar perairan Indonesia oleh kapal TNI AL.

Selain pongah, negeri jiran yang satu ini pun nampaknya kurang tahu malu. Warisan budaya Indonesia seperti batik, reog Ponorogo, tari pendet, lagu Rasa Sayange, diklaim sebagai milik mereka. Bagi kita yang orang Indonesia, klaim seperti itu tentu tak masuk akal. Sebab, tidak ada orang Indonesia yang tidak tahu bahwa batik adalah asli milik Indonesia. Begitu pun reog Ponorogo, tari pendet atau lagu Rasa Sayange. Tapi itulah Malaysia, negeri jiran yang satu ini, yang tak perlu lagi merasa sungkan pada Indonesia, kini berbuat semaunya.

Menghina Lagi
Perbuatan polisi perairan Malaysia menangkap tiga petugas DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) Indonesia di perairan Tanjung Berakit, Kepulauan Riau, 13 Agustus lalu, jelas merupakan penghinaan baru bagi Indonesia. Bagaimana mungkin, petugas resmi Indonesia yang sedang bertugas secara resmi di wilayah Indonesia, ditangkap dan dibawa ke Malaysia. Mereka diperlakukan seperti kriminal, diborgol dan dipakaikan baju tahanan, bahkan ketika bertemu perwakilan Indonesia. Benar-benar penghinaan yang keterlaluan !
Pendapat seorang pengamat yang mengatakan bahwa lokasi penangkapan ketiga petugas Indonesia oleh polisi Malaysia itu adalah kawasan gray area (abu-abu/masih dipertanyakan) tegas dibantah oleh Menlu Marty Natalegawa yang menegaskan bahwa kawasan tersebut jelas wilayah Indonesia. Pendapat seperti itu absolutely rubbish (benar-benar sampah), katanya, (Kompas, 19/8). Menlu juga mengemukakan bahwa kementeriannya telah melayangkan nota diplomatik berupa protes keras ke pemerintah Malaysia atas pelanggaran wilayah Indonesia itu. Masih menurut menlu, nota diplomatik yang dikirim itu merupakan nota yang ke sembilan dikirim ke pemerintah Malaysia sepanjang tahun 2010 ini. Artinya, sepanjang tahun ini pihak Malaysia telah sembilan kali melakukan penghinaan terhadap Indonesia berupa pelanggaran wilayah atau hal-hal lain. Ditambahkan Marty, nota diplomatik berupa protes keras itu adalah hal maksimal yang dapat dilakukan oleh kementerian yang dipimpinnya.

Pelanggaran wilayah serta penangkapan petugas DKP oleh polisi Malaysia itu jelas memancing amarah rakyat Indonesia. Di berbagai tempat timbul unjuk rasa oleh berbagai kalangan. Bendera Malaysia dibakar dan diinjak-injak oleh para demonstran. Beberapa perwakilan Malaysia, seperti Kedutaan dan Konsulat didemo massa. Masyarakat Indonesia memang sudah sangat marah dengan ulah Malaysia yang tidak henti berbuat seenak perut terhadap saudara serumpunnya itu.

Selain pengunjukrasa, para pengamat juga menyesalkan sikap polisi Malaysia yang lancang dan kurang ajar tersebut. Mereka pada umumnya minta pemerintah agar bertindak lebih tegas dan berani terhadap Malaysia yang sudah berulang kali melakukan berbagai bentuk pelecehan terhadap Indonesia, sehingga sangat menyinggung harga diri sebagai bangsa. Nota diplomatik berupa protes keras, yang sudah sembilan kali dilayangkan, cuma dianggap angin lalu. Perlu tindakan lebih keras, menarik duta besar kita dari sana atau mengusir duta besar mereka, misalnya. Begitu antara lain pendapat para pengamat serta anggota DPR RI.

Adem Ayem
Kalau rakyat serta para pengamat mau pun beberapa anggota DPR plus tokoh-tokoh masyarakat marah berat atas penghinaan yang dilakukan Malaysia itu, pemerintah serta para pemimpin kita adem ayem (dingin-dingin) saja tampaknya. Bagi pemerintah, nota diplomatik yang dianggap angin lalu oleh Malaysia itu, cukup sudah untuk menyelesaikan masalah ini. Lebih menyedihkan lagi, ketiga petugas resmi kita yang ditangkap polisi Malaysia itu "dibarter" dengan ketujuh nelayan Malaysia yang kedapatan mencuri ikan di perairan kita !

Sungguh pilu, bagaimana mungkin petugas resmi kita ditangkap Malaysia di perairan kita, lantas ditukarguling dengan tujuh nelayan Malaysia yang kedapatan mencuri ikan di perairan kita. Petugas kita ditukar dengan maling ikan ! Kok bisa ? Namun itulah faktanya, meski pemerintah, sebagai mana biasa, menyampaikan berbagai alasan yang sulit diterima akal sehat rakyat.

Dalam suasana memperingati HUT Proklamasi ke-65 ini, pastilah arwah Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, serta para pahlawan lainnya menangis di alam sana melihat anak bangsanya dilecehkan, dipermalukan. Bukan oleh bangsa Belanda atau Jepang yang dahulu pernah menjajah negeri tercinta ini. Bukan pula oleh bangsa berkekuatan besar semacam Amerika Serikat, tapi justru oleh negeri tetangga yang sama-sama melayu, Malaysia !

Pada akhir tulisan ini, kita berharap agar para pemimpin bangsa, terutama Pak Beye (meminjam istilah Wisnu Nugroho dalam bukunya "Pak Beye dan Istananya") yang penuh wibawa, kalem, serta selalu low profile, dapat menunjukkan kemarahannya. Meski pepatah menyatakan "diam adalah emas", sekali-sekali pemimpin kita perlu marah dan berteriak jika sudah menyangkut harkat dan martabat bangsa. Kalau pemimpin kita cuma diam seribu bahasa terhadap perlakuan negeri jiran yang pongah, angkuh, sombong, arogan, lantam dan kurang ajar itu, percayalah kejadian yang sama atau lebih parah akan terulang dan terulang lagi!***

Penulis adalah wartawan/mantan pengurus PWI  Sumut.
 
« Last Edit: August 31, 2010, 03:41:57 PM by pardimaulagi »


Offline rezaprama

  • rezaprama
  • Pasukan Bersenjata
  • ***
  • Posts: 30
  • Reputation: +0/-0
  • Gender: Male
  • Mencoba Menjadi Seorang Manusia
    • rezaprama
Re:Ketika puncak kesabaran bangsa Indonesia
« Reply #1 on: March 03, 2011, 11:42:07 AM »
 :91: :91:HIDUP bangsa INDONESIA RAYA!!! :96: :96:

Komunitas Online Terbesar di Ponorogo