* Broadcastindo.com

Custom Search
Penyedia Layanan Hosting dan Domain Ponorogo

Komunitas Online Terbesar di Ponorogo

Author Topic: - HUJAN, BAWA DIA KEMBALI .. (part II) -  (Read 1336 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline hesti_gamaresa

  • Pasukan Tempur
  • *
  • Posts: 4
  • Reputation: +0/-0
- HUJAN, BAWA DIA KEMBALI .. (part II) -
« on: June 09, 2010, 01:11:09 PM »
Kembali aku harus memperhatikan teman-teman sekolahku memamerkan kebahagiannya libur akhir pekan.Kebiasaanya yang semakin membuatku bosan menjadi pendengar setia.Tapi apakah mereka mau mendengarkan cerita libur akhir pekanku yang kosong tanpa isi.Kalaupun toh mereka mau, itu hanya ingin membuatku tenang sementara.Aku seperti seseorang yang terbuang dari kumpulannya.Merasa kecil dan tak punya apa-apa di sekitar mereka.Benarkah yang ayah bilang kalau dia hanya ingin membuatku bertahan diantara teman-temanku ini.Terlalu simple dan otakku tidak bisa mencerna alasan klise itu.Aku cukup besar dan berada bila dia selalu setia di dekatkku.Tanpa materi yang disuguhkannya aku tidak akan mati.Bahkan aku bisa lebih berdiri tegak bila sosoknya yang setiap hari membuatkanku sarapan sekaligus menemaniku duduk di meja makan.Mungkin aku bisa sedikit menyombongkan kewajaran ini pada teman-temanku.
      “Ibuku selalu membuatkan baju baru bila nilai-nilaiku bagus.Aku menyukai itu.” Begitulah kewajibanku mendengar setiap celoteh membosankan teman-temanku.
      “Kalau ibuku hanya bisa menemaniku mengerjakan tugas setiap malam.Tapi dia guru terpintar bagiku.” Ini lagi yang mengharuskanku membuka memory rekaman setiap setengah hariku di sekolah.
      “Triska, tidakkah kau punya cerita tentang ibumu ??.” pertanyaan yang membuat bola mataku hampir keluar dan lidah ini terpaku rapat pada langit-langit mulut.Semua pandangan mulai tertuju padaku dan siap mendengarkan suara yang pasti tak tertata rapi olehku.
      “Aku harus mulai darimana ??.Menceritakan perawakan ibuku saja aku tidak sanggup.” Aku menghela nafas panjang dan sedikit bergeser membelakangi teman-temanku.Tapi tindakan bodoh ini tak kunjung meredam rasa penasaran mereka.
      “Mulailah sesukamu.Jadikan kami pendengar yang baik kali ini.Sedikit saja buat kami lega mendengarkanmu bercerita.” Pinta temanku polos tanpa mereka tahu aku mulai muak dengan permainan konyol ini.
      “Em… tidak ada yang penting untuk kuceritakan pada kalian.” Aku tergagap menghadapi situasi ini.Tapi apa boleh buat aku mengelak.
      “Terlalu sempurna bila aku menggambarkan dia.Aku tidak mungkin membohongi kalian teman.Tapi sungguh, hanya dia jelmaan malaikat pikirku.Mungkin benar, dia tidak selalu ada setiap aku butuh.Aku selalu sendiri setiap makan pagi, tanpa guru terbaik setiap mngerjakan tugas, tanpa desainer professional pada tiap baju-baju baruku.Dia tidak pernah membuatku manja akan suatu hal, tidak pernah mengajariku menjadi gadis yang cengeng.Dia selalu sibuk dengan waktunya sendiri tanpa berfikir kalau aku sebenarnya kehilangan.Aku hanya bisa menemukan kertas yang sama setiap awal minggu dengan pesan-pesan yang tak penting.Mungkin itu sebentuk perhatiannya untukku, meski aku tak pernah puas dengan yang dilakukannya.
      “Sampai akupun sulit menyebutnya ibu dan mengakuinya menjadi bagian dari hidupku.Tapi aku tidak bisa mangkir dari yang digariskan bagiku.Karenanya, aku dibuat menjadi gadis yang menghargai kebersamaan.Terdidik dengan benar menjadi diriku yang apa adanya.Sungguh aku mencintainya dan tidak pernah berharap dia perlahan meninggalkanku pergi.Dulu aku membencinya dan hanya menganggap ayahku satu-satunya orangtua.Tadi pagipun aku masih dingin padanya.Tapi detik ini, aku menyadari semua kesalahan itu.Dia, ibuku yang membesarkanku.Rela menjadi mantel yang melindungiku dari terik dan dinginnya hidup.Dia, ibuku yang menjadi tempat aku mengadukan semuanya.” Sudah selesai aku menceritakan tentang dia.Aku pikir cukup membuat teman-teman iri dengan aku memiliki ibu seperti dia.Terimakasih telah membuatku bisa bercerita meski sedikit tentang dirimu.
   Titik-titik hujan ikut mengakhiri dongengku ini.Aku bahagia bisa melepaskan semua beban hari ini.Teman-temanku benar menjadi pendengar yang baik.Sekarang aku tidak merasa dicurangi oleh kenyataan.Aku menghargai ini, dan tentunya menghargai setiap waktu yang aku lewati kemarin, hari ini, esok, dan entah kapan lagi.Sisa waktu yang wajib aku habiskan di sekolahpun tidak begitu terasa percuma.Semangat ini muncul karena ceritanya.Aku ingin dia sudah kembali saat aku pulang nanti.Banyak yang ingin aku bagikan dengannya.
   Sepuluh detik hitungan jariku, lonceng bundar itupun berbunyi.Tanda kaki ini boleh melenggang keluar dari ruang kelas.Tidak aku siakan waktu yang tersisa sore ini.Melangkah gontai di sepanjang trotoar jalan setapak.Aku menikmati dinginnya hawa yang terlalu mencubit daging-dagingku.Gerimis dan gugurnya bunga-bunga kuning ini, aku sangat menyukainya.Perasaanku tentram memikirkannya.Kali ini aku pasti bisa memperbaiki hubungan kami.Janjiku dan akan kuwujudkan detik ini juga.
   Asik aku menikmati perjalanan kali ini.Tiba-tiba ponsel putihku bergetar di saku seragam batikku.Nama ayah yang ada di layar dan seketika itu aku mengangkatnya.Kaki ini spontan terhenti setelah mendengar kabar yang dibawa ayah.Jelas aku akan bertemu dengannya.Tapi tak dirumah untuk hari ini.
      “Ayah…..ayah…” aku berlari dikoridor lorong yang serba putih.Bau obat sungguh menyengat hidung ini.Tapi aku tak bisa merasakan apapun karena semua system organku tersumpal kekalutan.Aku melihat ayah tersukur lemas di bawah daun pintu.Tangisnya terlalu terisak sebagai seorang lelaki tangguh untukku.
      “Katakana apa yang terjadi ??.Biarkan Triska mendengar semuanya, ayah.” Sedikit memaksa ayah walau aku tahu dia sendiripun sulit mengatakannya.Mulut ayah mulai terbuka perlahan dan semua yang terjadi ini jelas aku dengar.Tak kuasa bendungan air mataku tertahan.Aku tumpahkan saja semuanya.
   Maha Besar Dia yang mempertemukanku dengan sosok itu.Terbaring pucat pasi dengan tusukan selang-selang yang melilit tubuhnya.Keadaan yang sangat tidak aku inginkan meski benar aku sempat tidak menganggapnya ada.Aku mendekat dan seraya menggenggam jemarinya yang lemas tak bergerak sedikitpun.Menangis saja aku tidak bisa.Air mata ini habis menguap.Aku salah membiarkannya pergi pagi tadi.Andai aku tahu detik itu adalah bagian terakhir yang harus aku lakonkan.
      “Biarkan dia tenang, Triska.Tidak ada yang perlu disalahkan.Ini kehendak-Nya.Jangan kau kutuk takdir ini dengan sisa air matamu.” Ayah memelukku meski dia sendiripun tak begitu kuat untuk menerima kepergian Ibu.
      “Ibu hanya tidur panjang dan dia akan terbangun saat kau mendoakannya di sujudmu, nak.Jagalah cintamu untuknya.Maafkan semua yang telah dia perbuat sampai kau tak merasakan kasih sayangnya lagi.
   Kutipan akhir cerita yang sesungguhnya, saat aku melihat dia terkubur dengan tanah-tanah basah sore ini.Ibuku juga manusia biasa yang tidak bisa lari dari maut.Kecelakaan kereta itu yang mengantarnya ke surga.Tapi aku menyesal dia masih membawa luka batin karena aku.Awal baru yang terkonsep olehku seakan ikut hancur karena kepergiaanya yang tak meninggalkan pesan.Aku terlalu bodoh membayangkan dia memberiku pesan singkat atas kematiannya.Tapi jika hal itu memang dia kerjakan, aku tidak perlu repot-repot menyiapkan hati yang akan terlukai.
   Pikiranku mungkin terlalu rendah menganggapnya telah membuangku.Terlalu berlebih membuatnya tokoh antagonis dalam dramatikalku sehari-hari.Aku harus menerima konsekuensi kesalahanku yang di bayarnya dengan ketidakadilan ini.Bagaimana mungkin aku sanggup menebar mawar-mawar merah itu di atas gundukan tanahnya.Persinggahannya yang terakhir dan membuat jarak di dunia kami.
      “Dimana kau sembunyikan pesan kematian ini dariku ??.Kenapa pagi tadi kau hanya diam.Aku belum puas dengan waktu-waktu yang kau tinggalkan untukku.” Tak berhenti aku menyerbunya dengan semua pertanyaanku.Meskipun aku sediri tahu ini hanya menambah rasa bersalah untukku.Aku seperti gadis bodoh yang bermonolog sendiri tanpa ada lawan bicara.
      “Kenapa kau tak jawab ??.Apakah kau dengar yang aku katakana ??.Dirimu yang membuatku linglung.Kemana lagi aku harus mencari tempat berlindungku jika bukan kau ??.” cacian ini aku biarkan mengalun tak terhenti dari mulutku yang basah karena derasnya hujan bercampur air mata.Aku tak peduli dengan sorotan mata ayah yang mengisyaratkan untuk berhenti menyalahkannya.
      “Tenanglah, Triska.Sekuat apapun dan sekeras apapun dirimu memintanya menjawab,ini hanya membuang tenagamu saja.Percayalah dia sudah menemukan tempat terbaik di sana.Tugasmu hanya berdoa.Tak perlu penyesalan.” Ayah mengguncang-guncang tubuhku berharap aku sadar dari tindakan yang main hakim sendiri.Tapi ini pelampiasanku atas semuanya.
   Lembaran ini selesai.Aku tersungkur memeluk dia yang tak kasat mata.Aku bisa merasakan wangi tubuhnya meski memang hanya bau sekaran mawar-mawar merah.Mataku terbuka dengan kepergiannya.Selama ini aku hanya sembunyi dari ketakutanku kehilangan dia.Aku yang bisa hidup karenanya dan juga bisa mati karenanya.Dia yang selama ini terabaikan olehku, yang sebisa mungkin aku tutupi dari daftar pemain hidupku.Selalu menganggap dia hanya figuran yang sama sekali tak aku butuhkan.Tapi tidak untuk sekarang.Saat ruhnya terbang bebas mencari jalannya sendiri, aku berbalik menjadikannya tokoh utama.Aku mengerti ini terlambat dan akhirnya aku yang harus menanggung lukanya.
      “Kepergianmu suatu pembelajaran keikhlasan dariku.Maaf jika aku terlambat mengakuinya.Maaf jika gadismu ini terlalu sombong menyampingkan perhatianmu.Ibu, pergilah dan semoga bahagia dengan dunia sesungguhnya.” Doa pertamaku untuknya.



 :A: :aduh:


MOHON DI COMMENT !!


Offline admin pozone

  • Administrator
  • *****
  • Posts: 56
  • Reputation: +28/-3
  • Gender: Male
  • Hidup adalah kebersamaan!!!
    • Liat koleksi Photography ku.
Re: - HUJAN, BAWA DIA KEMBALI .. (part II) -
« Reply #1 on: June 09, 2010, 08:42:20 PM »
Keren...

sekedar saran nieh.
Gunakan penulisan yang menarik, misalnya di huruf : Besar Kecil, penebalan, miring, garis bawah dll .
Dengan gaya penulisan seperti ini, pembaca lebih nyaman dan terus membaca sampai selesai.
Oh iya, akan lebih keren lagi bila ada penambahan gambar ilustrasi.

LANJUTKAN UNTUK TERUS BERKARYA!

Offline nChez™

  • Administrator
  • *****
  • Posts: 1,772
  • Reputation: +10/-1
  • Gender: Male
  • PONOROGO ZONE
    • WYSIWYG
Re: - HUJAN, BAWA DIA KEMBALI .. (part II) -
« Reply #2 on: June 11, 2010, 02:55:58 PM »
penuh banget ya kayaknya :D jadi pikir 2 kali kalo mau baca...

bookmark dulu deh, ntar kalo dah agak luang ane baca...

Komunitas Online Terbesar di Ponorogo

Offline takecy

  • takecy latuaji
  • SPYDER
  • ***
  • Posts: 588
  • Reputation: +2/-1
  • Gender: Male
  • seseorang yang tak'kan anda pandang dua kali....
    • takecy face blog
Re: - HUJAN, BAWA DIA KEMBALI .. (part II) -
« Reply #3 on: June 11, 2010, 07:17:20 PM »
penuh banget ya kayaknya :D jadi pikir 2 kali kalo mau baca...

bookmark dulu deh, ntar kalo dah agak luang ane baca...

ciakakakakkk....  ;O)) koe ki trahnan males kon moco,,, senengane gur nonton ari*l...

Offline gundhol_anune

  • Pasukan Khusus
  • ****
  • Posts: 53
  • Reputation: +2/-1
  • Gender: Male
  • kamar paling depan dekat pintu bawah tangga
Re: - HUJAN, BAWA DIA KEMBALI .. (part II) -
« Reply #4 on: June 11, 2010, 11:56:00 PM »
membaca pak..

Komunitas Online Terbesar di Ponorogo

Offline hesti_gamaresa

  • Pasukan Tempur
  • *
  • Posts: 4
  • Reputation: +0/-0
Re: - HUJAN, BAWA DIA KEMBALI .. (part II) -
« Reply #5 on: June 12, 2010, 11:39:09 AM »
Makasi bwd mas adi m mas nches..
Saya bru bljar.
Hahaha,,

Komunitas Online Terbesar di Ponorogo