* Broadcastindo.com

Custom Search
Penyedia Layanan Hosting dan Domain Ponorogo

Komunitas Online Terbesar di Ponorogo

Author Topic: TKI Potret Bangsa Budak...............................................  (Read 2314 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline admin pozone

  • Administrator
  • *****
  • Posts: 56
  • Reputation: +28/-3
  • Gender: Male
  • Hidup adalah kebersamaan!!!
    • Liat koleksi Photography ku.


Persoalan TKI tak henti-henti menjadi momok dan biang persoalan di negara kita. Puncaknya adalah saat terjadi pengusiran sekitar lima ribu TKI Indonesia dari Malaysia pada April 2003 yang mengakibatkan pengungsian di perbatasan Malaysia-Indonesia di Nunukan dan Kalimantan Timur. Kini, masalah TKI muncul lagi. Sekitar 180 ribu TKI ilegal di Malaysia harus pulang dulu agar mengurus dokumen-dokumen yang sah.
Negara pun diharuskan menganggarkan Rp 140 miliar hingga Rp 200 miliar untuk pemulangan TKI ilegal itu. Pemulangan tersebut bukan yang pertama. Sebab, pada 2002, hal yang sama terjadi. Bangsa Budak Secara ekonomis, TKI merupakan salah satu sektor income kas negara yang sangat menjanjikan. Karena banyaknya TKI yang mengembara, devisa negara akan bertambah dan semakin menggairahkan.
Dalam setahun, devisa negara bertambah sekitar Rp 2,2 triliun. Ternyata, harga diri orang Indonesia hanya di ukur dari kepentingan devisa. Apakah tidak memalukan kalau kemudian proses devisa negara didapat dari eksploitasi masyarakat pribumi yang notabene berada pada titik ekonomi dan sosial yang sangat lemah? Proses legalitas pengiriman tenaga kerja ternyata sudah disahkan pemerintah tanpa ada upaya membekali TKI kita dengan skill yang memadai, payung hukum yang tegas, serta regulasi yang akomodatif. Sehingga, intimidasi dan eksploitasi yang tidak manusiawi berlangsung terus-menerus.Hal itu ditambah persoalan gaji yang dinilai minim dalam ukuran gaji di Malaysia serta diperparah oleh tingkat skill TKI kita yang sangat rendah.



Profesi TKI kita menjadi pembantu rumah tangga cenderung lebih besar dan dominan daripada profesi yang lain. Secara kasat mata, apa bedanya kalau kemudian seorang pembantu diperlakukan semena-mena seperti budak, sehingga menghilangkan haknya sebagai seorang manusia yang juga memiliki hak hidup untuk dihargai? Kita menjadi bangsa yang gengsi untuk belajar dari pengalaman pemimpin negara lain yang mampu memperjuangkan hak rakyatnya di negeri orang. Misalnya, Presiden FilipinaGloria Macapagal Arroyo. Ketika ada warga negaranya yang menjadi tenaga kerja (TK) di Malaysia dan diperlakukan tidak manusiawi serta dipulangkan, dia berang dan marah. Saking sayangnya kepada TK-nya yang dipulangkan dari Malaysia, dia mengakumulasikan dengan menjemput TK tersebut di bandara dan memeluknya sambil berujar, "Sabar, saya akan melindungimu.
" Kalimat yang arif dan bijaksana keluar dari mulut seorang pemimpin negara yang mampu memberikan rasa aman dan menjaga harkat serta martabat bangsanya di mata dunia internasional. Hukum Lemah Sebaliknya, persoalan demi persoalan terus menghujam TKI. Tapi, kita tidak beringsut sedikit pun untuk menyelesaikan persoalan itu. Seharusnya dan sepantasnya, pemerintah membuat perangkat perlindungan hukum yang pasti dalam melindungi warga negara kita yang sedang bekerja di negeri asing. Hingga saat ini, belum ada UU atau aturan perlindungan terhadap TKI kita di luar negeri. Malang benar nasib TKI kita yang tidak dipedulikan pemerintah bagaikan anak tiri yang tidak dikasihani. Eskalasi kekerasan semakin hari semakin menggurita. Dan, diperlukan sikap tegas dari pemerintah untuk membuat perangkat hukum yang nanti bisa melindungi warga negara kita yang bekerja di luar negeri. Kalau peranti hukum itu tak kunjung lahir, kita khawatir bangsa ini akan diremehkan dan dilecehkan di mata negara lain. Harga diri sebuah bangsa adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan uang dan harta. Harga diri di atas segala-galanya dan harus diperjuangkan. Memotret persoalan TKI seakan tak habis-habis dengan diiringi eskalasi kekerasan yang tak kunjung henti. Rentetan kejadian seakan terus-menerus mendera seperti lingkaran setan. Sehingga, harus ada langkah-langkah preventif dan humanis untuk dilakukan. Pertama, membuat peranti hukum yang akomodatif dan representatif dalam melindungi TKI. Sehingga, proses dehumanisasi tidak terus berlangsung. Kedua, regulasi yang dikeluarkan pemerintah selayaknya lebih bijak dan arif, sehingga eskalasi kekerasan dan pencemoohan terhadap TKI bisa diminimalkan. Ketiga, membekuk penyalur TKI nakal yang sering mengambil kesempatan dalam kesempitan. Keempat, membekali TKI dengan skill praktis serta wawasan yang cukup dan memadai, sehingga mereka bisa bekerja secara baik. Riak persoalan yang dialami bangsa ini semakin hari semakin besar. Karena itu, dibutuhkan pemerintahan baru yang mampu menunjukkan keberanian dan kebijaksanaannya dalam menyelesaikan masalah yang menyangkut tentang harga diri bangsa kita. Semoga bangsa kita bukan bangsa yang sok gengsi yang selalu tidak pernah mau becermin pada negara lain. Kita berharap semoga pemerintahan yang baru ini akan memberikan warna baru dalam penanganan TKI yang humanis...............................................................................

* Ditulis oleh Yusdani, peneliti Pusat Studi Islam dan dosen FIAI UII, Jogjakarta Artikel ini adalah artikel opini dimuat di Harian Jawa Pos Senin, 08 Nov 2004
« Last Edit: June 28, 2008, 12:54:01 PM by pardicukup »


Offline admin pozone

  • Administrator
  • *****
  • Posts: 56
  • Reputation: +28/-3
  • Gender: Male
  • Hidup adalah kebersamaan!!!
    • Liat koleksi Photography ku.


KEMALASAN MELAHIRKAN KEBODOHAN....
KEBODOHAN MELAHIRKAN KEMISKINAN....
KEMISKINAN MELAHIRKAN KEINGINAN UNTUK JADI TKI SAJA....................................
ENAK NGGAK USAH MIKIR.......
DIPERBUDAK, DILECEHKAN -> MASA BODOH.................


Demikian kira-kira rangkuman hasil survey team teknis UWW (Urbant Workers Watch). Survey dilakukan sangat tersamar, semata-mata untuk menemukan fakta yang benar. Setiap tahapan pemantauan dikerjakan secara incoqnito oleh anggota team UWW yang berasal dari Ponorogo, Madiun yang sudah sangat familiar dengan peta demografi Ponorogo dan sekitarnya.
Survey memang agak terfokus ke Ponorogo, semata-mata karena nama Ponorogo lebih dikenal di luar negeri dibandingkan kabupaten yang lain. Agak menarik perhatian karena pengiriman buruh migrant dari Ponorogo mengalami grafik peningkatan yang significant. Ponorogo yang sebelumnya diasosiasikan sebagai daerah yang berkecukupan dan atau citra masyarakatnya dianggap cukup tinggi, kok ternyata mau-maunya bekerja sebagai buruh migrant. Bagi pengamat buruh migrant di luar negeri, pengiriman tenaga kerja Indonensia yang tanpa skill memadai, terbukti sarat dengan praktek-praktek perbudakan terselubung dan atau praktek traficking (perdagangan manusai). Banyak buruh migrant perempuan asal Indonesia dan Ponorogo khususnya, terlalu mudah untuk terjerumus sebagai pekerja seks komersial, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan. Tidak seperti buruh migrant dari Philipina, Vietnam, India atau Bangladesh, mereka lebih punya prinsip hidup. Mereka juga memiliki ikatan persaudaraan yang kuat yang mampu saling melindungi buruh migrant mereka di negeri orang. Demikian juga staf kedutaan dan konsulat mereka lebih care/peduli dan tidak memeras warga mereka sendiri .........................................................................


Sudah waktunya orang Ponorogo dan para pemimpin rakyat Ponorogo segera mengkoreksi kebijakan-kebijakan masa lalu yang merugikan warganya. Stop atau kurangi pengiriman buruh migran non-skill ke luar negeri. Segera dibentuk Balai-Balai Latihan Ketrampilan (BLK) untuk mendidik para calon buruh migrant agar bisa dikirim sebagai buruh migrant skilled, agar di negeri orang mereka bisa dipekerjakan sebagai buruh terampil, teknisi atau pekerja-pekerja profesional sesuai bidang masing-masing. Cara ini menjamin warga negara Indonesia bisa bekerja di negara lain secara lebih terhormat sekaligus dengan penghasilan yang lebih baik. Bagi masyarakat Ponorogo sendiri, rubahlah pandangan-pandangan hidup lama yang salah. Jangan lagi malas sekolah. Jangan percaya omongan kosong, TKI non-skill sama sekali bukan pahlawan devisa, tetapi lebih seperti budak rodi yang dikorbankan negerinya sendiri. Janganlah sadar, tetapi setelah terlambat. Sekolahlah setinggi mungkin. Sekolahlah di sekolah-sekolah kejuruan dan minimal sampai tingkat lanjutan atas. Bela harga dirimu, sekaligus membela martabat bangsa.

30-05-2008 16:52:18, oleh: Andi Alfian Daud Jusof, SH


di sadur dari guestbook http://www.ponorogo.go.id/index.php?m=guestbook&ac=show&p=8&st=24
« Last Edit: June 28, 2008, 01:12:01 PM by pardicukup »

Offline bamd

  • Pasukan Bersenjata
  • ***
  • Posts: 39
  • Reputation: +0/-0
  • Gender: Male
  • cengoh ! !
    • sukun
Re: TKI Potret Bangsa Budak...............................................
« Reply #2 on: December 13, 2008, 12:27:41 AM »
hmmm ...

"KEMALASAN MELAHIRKAN KEBODOHAN....
KEBODOHAN MELAHIRKAN KEMISKINAN....
KEMISKINAN MELAHIRKAN KEINGINAN UNTUK JADI TKI SAJA....................................
ENAK NGGAK USAH MIKIR.......
DIPERBUDAK, DILECEHKAN -> MASA BODOH................. "

Jadi siapa yang  yang menciptakan kemalasan??? apakah setiap orang di ciptakan untuk bermalas-malasan? TIDAK!! saya pikir budaya yang mempengaruhi orang untuk bekerja di luar negeri, bukan faktor malas,, mereka [TKI] di sana tidak sedang ngokop kopi + rokok an mereka bekerja !

OK, sebelum di bahas lebih lanjut, alangkah lebih baik di-definisikan [baca:dibatasi] tentang kemalasan itu sendiri, apa dan bagaimanakah kemalasan itu. :-) silahkan bagi yg tertarik.

ps: saya punya teman, dia TKI akan sms-kan kata-kata yang berhuruf besar di atas, dan saya mau liat bagaimana reaksinya, ga fair kan kalo kita lihat dari satu sisi saja terus kita over-general-kan

Komunitas Online Terbesar di Ponorogo

Offline GSAdjie

  • Moderator
  • **
  • Posts: 262
  • Reputation: +10/-0
  • Gender: Male
  • Lahir.. Belajar.. Berjuang !!
Re: TKI Potret Bangsa Budak...............................................
« Reply #3 on: December 13, 2008, 10:31:51 AM »
Ha..ha..ha.. Posting Yang 'CERDAS' Banget Kang Bamd !
Dan Kayaknya Gak Usah Deh Kata2 BERHURUF BESAR di ATAS, disms-kan ke TKI Kita Di Luar Negeri. Bisa.. Bisa..  x-( ...Lho...hehehe
Kita Yang Arif Dan Bijaksana Aja Deh Jadi Orang. Gak Usah Menuding Orang Lain Dengan Profesinya (TKI/TKW), Tapi Jauh Lebih Baiknya Kita Menuding Diri Kita Sendiri..
Sportifkan Kalo Gitu..

Kita Atau Si TKI-nya Yang Pemalas ?
Kita Atau Si TKI-nya Yang Gigih Bekerja ?
Kita Atau Si TKI-nya Yang Jadi Budak ?
Kita Atau Si TKI-nya Yang Gagal ?
Kita Atau Si TKI-nya Yang Berdaya Juang Tinggi ?
dsb .. dsb ..

Soal Jadi Bangsa Budak (Karna Banyak TKI-nya kita), Kayaknya sangat NAIF sekali menulis kata-kata semacam itu.
Soal di Lecehkan di Luar Negeri .. Kayaknya, Yang Harus Kita Kritisi Adalah Pemerintahnya deh.. Sebagai Regulator Untuk Mengurusi Masalah2 semacam itu.
Lebih Baik.. kita Gabung di Lembaga semacam Migrant Care, atau LSM2 yang peduli sama masalah2 TKI..
Atau Kita aja sendiri (dengan kemampuan dan kemauan kita) Mendesak pemerintah untuk lebih serius dan mau turun tangan pada nasib 'si-budak' tadi..
Gak Usah Banyak Alasan Macam2 untuk Berbuat.. Berusaha dan Lakukan Saja..
Soal Hasilnya.. itu nomor belakang.

Atau kita ada yang bisa memberi Jalan Keluar Mengatasi Masalah Tenaga Kerja Dengan Memberi Lapangan Kerja Pada TKI/TKW .. Dengan Menyalurkan Kerja Mereka Yang Lebih Baik, Gaji Tinggi, Manusiawi Dan terjamin Kesejahteraannya ..

Kalau Belum Mampu .. Lebih Baik Diam. Atau Berbuat Sekecil Apapun Untuk Tujuan Yang Lebih Baik Bagi TKI/TKW kita..
Ketimbang Hanya Sebagai Pemberi Lebel "BUDAK" Pada TKI/TKW kita..

Salam !


Offline cDezt

  • Hero Member
  • *****
  • Posts: 521
  • Reputation: +7/-0
  • Gender: Male
  • membuka mata....
    • hihi
Re: TKI Potret Bangsa Budak...............................................
« Reply #4 on: December 13, 2008, 08:24:41 PM »
just for info

mbak ku ada 3
1 baru pulang beberapa bulan dari "mbabu" di Saudi
1 lagi masih di Hongkong juga "mbabu"
bulik ku juga mantan TKW

whats wrong??
orang yang ga pernah ngerasain kerja jadi TKW/TKI mungkin ga pernah tau gmana rasanya kerja jadi babu kek gitu
atau paling nggak jadi keluarga(yang sodara na jadi TKI/TKW)

mereka kerja mas,
bukang ngemis

saya ga pernah malu or gimana2
saya tetep bangga,

yang saya khawatirkan justru orang yang selalu memandang miris para TKW/TKI
kenapa mereka hanya berkomentar saja??
apa mereka tau gman kerjaan mereka di sana?
apa mereka tau gmana kesulitan2 mereka di sana??

temen2 saya banyak yang jadi TKW/TKI
banyak yang cerita gmna keadaan mereka yang sebenernya di sana

orang yang mengomentari para pahlawan devisa mungkin taunya cuman
"merekalah(TKI/TKW) yang mencari hanya mencari uang dengan cara cepat, pulang bawa uang banyak"

tak pernah terbayangkan bagaimana perasaan mereka jika mendengar comment kek gitu.....  :shame:

Komunitas Online Terbesar di Ponorogo

Offline chandiel

  • Super Moderator
  • ***
  • Posts: 892
  • Reputation: +33/-1
  • Gender: Male
  • all I want now is a Music 'n Dance
    • WEbSite  sAiA
Re: TKI Potret Bangsa Budak...............................................
« Reply #5 on: December 13, 2008, 10:10:44 PM »
bojoku dewe yo dadi TKI...  :(( :(( :(( :((

Komunitas Online Terbesar di Ponorogo