* Broadcastindo.com

Custom Search
Penyedia Layanan Hosting dan Domain Ponorogo

Komunitas Online Terbesar di Ponorogo

Penulis Topik: Reyog Ponorogo yang Langgeng Melegenda (1)  (Dibaca 2819 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline pucuk gunung ngrayun

  • Pasukan Bersenjata
  • ***
  • Tulisan: 34
  • Reputation: +0/-0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Ponorogo Zone
Reyog Ponorogo yang Langgeng Melegenda (1)
« pada: Oktober 24, 2010, 06:55:20 pm »
Seni yang Lahir dari Pencarian Tambatan Hati

Jum'at, 22 Oktober 2010 07:00:43 WIB
Reporter : Raden Catur Cahyo

Kesenian reyog adalah salah satu kesenian asli milik Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur yang sudah mendunia sejak puluhan tahun lalu.

Selain dadak merak (bulu merak) yang digabungkan dengan singo barong (kepala macan), kesenian ini juga dilengkapi dengan penampilan warok yang terlihat khas dengan baju dan celana besar hitam, sabuk kulit, kolor tali warna putih, terbalut rapi, udeng hitam di kepala dan postur tubuh yang kekar. Diselipi muka garang, kumis lebat dengan gagahnya mereka berjalan.

Tak hanya itu, unsur lain seperti jathilan atau gadis cantik dengan kuda kepangnya, termasuk aksi penari remaja bujang ganong, adalah pasukan sang legenda, Raja Kelono Sewandono yang mencari gadis pujaannya, Dewi Sri Songgolangit.

Beberapa adegan yang ditampilkan dalam alur pementasan reyog sebenarnya tidak mengikuti skenario khusus. Tetapi, berdasarkan cerita beberapa budayawan Ponorogo, kekuatan alur pertunjukan tersebut berada pada interaksi sang penari dengan penontonnya.

Kendati demikian, hal itu tanpa mengurangi nilai filosofi yang sebenarnya ditularkan melalui wujud kepala harimau bermahkotakan burung merak ini.

Berangkat dari legenda sang Raja Bantarangin, Kelono Sewandono, penggambaran laku seni reyog ini dimulai. Menurut salah satu tokoh sesepuh warok Ponorogo, Mbah Bikan, filosofi yang terkandung dalam tarian reyog ini berangkat dari kisah pencarian tambatan hati Raja Kelono Sewandono.

Saat itu, raja yang terkenal dengan senjata pecut Samandiman dan topeng barong tersebut menjatuhkan pilihan pada seorang putri dari Kediri bernama Dewi Sri Songgolangit.

"Tapi, tidak semudah itu sang raja meluluhkan hati sang Dewi. Sebab, ada syarat yang diajukan oleh Dewi Sri Songgolangit," kata Mbah Bikan, yang saat ini menetap di Desa Plunturan, Kecamatan Pulung, Ponorogo.

Syarat tersebut yakni harus adanya mahar berupa sebuah kesenian yang belum pernah ada di muka bumi. Maka terciptalah seni reyog dengan empat peran yang merupakan gambaran Kerajaan Bantarangin. Yakni Raja Klono Sewandono, Patih Bujang Ganong, sekelompok prajurit kekar yang disebut warok, pasukan berkuda jathil serta singa barong penguasa hutan setempat bernama hutan Lodaya.

Sebenarnya, apabila ditelisik, ada tiga versi yang beredar kuat pada kalangan sesepuh Reyog Ponorogo. Yakni versi Bantarangin, versi Ki Ageng Kutu Suryangalam, serta versi Batoro Katong. Untuk itu, tahun 1992 silam, pemerintah setempat sempat membentuk tim kerja yang bertugas meneliti sejarah alur kesenian reyog tersebut.

Akhirnya, versi Bantarangin yang merujuk pada zaman kerajaan Kediri (abad XI) dianggap sebagai versi tertua. Kemudian versi Ki Ageng Kutu Suryangalam yang merujuk pada masa pemerintahan Bhre Kertabumi di Majapahit (abad XV). Serta diakhiri dengan kekalahan Ki Ageng Kutu Suryangalam yang beragama Budha oleh Batara Katong yang beragama Islam di abad yang sama. Hingga merujuk pada perkembangan penyebaran agama Islam di Ponorogo.

Bahkan, hingga saat ini, alur cerita kesenian reyog telah mengalami beberapa inovasi. Seperti halnya warok yang dulu kala harus nggemblak (tidak boleh berhubungan dengan wanita) saat ini sudah tidak ada. Pasukan jathil yang dulu ditunggangi laki-laki, saat ini berganti perempuan.

Namun demikian, perubahan ini tetap tidak meninggalkan filosofi sebagaimana terkandung. Termasuk beberapa irama nada slendro dan pelog yang berasal dari kempul, ketuk, kenong, gendang, ketipung, angklung, gong dan salompret. Saat ini, eksistensi reyog yang telah menggema hingga seluruh dunia tampaknya menjadikan pemerintah setempat bekerja ekstrakeras untuk mempertahankan dan melindunginya.

Dengan tujuan mempertahankan potensi budaya warisan leluhur tersebut. Termasuk belajar dari pengalaman sebelumnya, yang sempat diklaim negara Malaysia sebagai tari barongan warisan Melayu dari Batu Pahat Johor dan Selangor Malaysia.

Ketika era tahun 1987, kesenian reyog mengalami polemik yang sangat luar biasa. Saat itu sejumlah remaja kian meninggalkan kesenian asli Ponorogo. Pada saat itulah muncul konsep yang digagas Bupati Ponorogo saat itu, Barkah. Ketika bulan Suro (bulan Jawa), dia melihat banyak masyarakat Ponorogo yang berkumpul di Alun-alun hingga muncullah ide untuk membuat pertunjukan festival reyog.

"Saat pertama kali diadakan festival reyog, pesertanya hanya tiga saja, itu pun dari Ponorogo semua. Dan lokasinya tidak di Alun-alun, baru di tahun kedua digelar di Alun-alun. Alat penerangannya dulu hanya menggunakan dimar (penerangan terbuat dari api) saja," jelas Budi Satriyo, pengamat seni sekaligus Sekretaris Yayasan Reyog.

Festival itu hingga saat ini terus berlangsung setiap menjelang bulan Suro hingga memasuki bulan Suro. Lomba ini pun sekarang diikuti berbagai kabupaten di Indonesia, termasuk Kalimantan, Sumatera hingga Papua.

Selain itu, setiap memasuki hari jadi Kabupetan Ponorogo, pemerintah daerah juga menggelar Festifal Reyog Mini (FRM) yang wajib diikuti sekolah di Ponorogo tingkat SMP dan SMA. Setiap datang bulan purnama, Pemkab Ponorogo juga selalu menggelar pertunjukan reyog di panggung utama Alun-alun Ponorogo.

Tak hanya penonton lokal, banyak penonton di antaranya juga berasal dari daerah sekitar, seperti Pacitan, Trenggalek, Magetan, Madiun, hingga Wonogiri Jawa Tengah. [air/tur]


Offline giyono

  • SPYDER
  • ***
  • Tulisan: 137
  • Reputation: +1/-0
  • Jenis kelamin: Pria
  • kejujuran sebagai modal hidup
Re:Reyog Ponorogo yang Langgeng Melegenda (1)
« Jawab #1 pada: Oktober 24, 2010, 09:40:49 pm »
makasih kang infonya, semakin menambah wawasan dan semakin c :88:inta akan kota kelahiran Ponorogo ( kota Reog )

Offline moto_loro

  • Ketua RW
  • **
  • Tulisan: 282
  • Reputation: +1/-0
Re:Reyog Ponorogo yang Langgeng Melegenda (1)
« Jawab #2 pada: Oktober 24, 2010, 10:20:58 pm »
wah, ternyata masih banyak yang belum saya ketahui tentang reog.
terima kasih infonya.

Komunitas Online Terbesar di Ponorogo